اصلح نفسك ودعو غيرك

Isnin, 18 April 2011

WANITA BERPAKAIAN TAPI TELANJANG

nilah yang kami sedihkan pada kaum wanita saat ini. Zaman sudah semakin
rusak. Perzinaan di mana-mana. Pornografi yang sudah semakin marak.
Bahkan hal-hal porno semacam ini bukan hanya digandrungi oleh orang
dewasa, namun juga anak-anak. Bahkan terakhir ini yang sudah membuat
kami semakin geram, tidak sadar-sadarnya wanita dalam berpakaian. Saat
ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita
sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka
atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun,
sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana
atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu,
melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini.

Kami tidak tahu
beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan
lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala
barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya
kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum
muslimin dari musibah ini.
Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ
مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ
الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ
مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ
لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا
لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari
penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang
memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para
wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka
seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk
surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama
perjalanan sekian dan sekian.”
(HR. Muslim no. 2128)

Hadits
ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di
zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini.
Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi
setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir,
4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan
kerusakannya lebih parah.
Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’

An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.
Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna
kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan
kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan
ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian
anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang
dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.< br />
Makna
keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam
tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat
Syarh Muslim, 9/240)

Pengertian yang disampaikan An Nawawi di
atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak).
Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan,

“Makna
kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis
yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi
(anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang
berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah
Muslimah, 125-126)

Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun,

“Senyatanya
memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang.
Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat
menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya,
namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia
mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna
lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan.
Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia
membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk
menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.

*
Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian
dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun
sebenarnya dia telanjang.
* Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.
*
Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur
kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)

Kesimpulannya
adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai
pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang
membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.
Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini

Lihatlah
ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakaian pakaian tetapi
sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam,

“wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan
mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan
sekian.”

Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman
biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil.
Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita
seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak
akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?

An
Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan
beliau rahimahullah:

Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan
ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal
ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang
wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka
wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk
surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini
tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu
tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat
Syarh Muslim, 9/240)

Jika ancaman ini telah jelas, lalu
kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis?
Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain?
Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi?
Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi?
Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!

Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya!

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

QASIDAH AL MUHAMMADIYAH

kempen MENGINGATI KEMATIAN

kempen HARAM MEROKOK